Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik

Tidak ada satu Agama pun di dunia, yang bisa membuat orang jadi baik.
Yang ada; Orang baik dan mempunyai niat yang baik, menggunakan Agama apa pun, untuk tujuan kebaikan. Pasti dia akan jadi baik.
Jadi pilihlah Agama yang sesuai dengan Logika dan Hati Nurani.

Sabtu, 03 Juni 2006

Evolusi bagi seorang Kejawen

Bicara mengenai evolusi bagi orang yang beragama, dapat dilihat dari Tiga Kubu, yakni :

Kubu Pertama (Yang diyakini oleh Agama-agama Rasul)
Dalam Dogma dan Ke-Imanan beberapa agama mengkisahkan awal mulanya kehidupan manusia adalah dikarenakan adanya kutukan terhadap Adam dan Hawa, yang artinya mereka turun ke bumi, sudah berbentuk atau dengan wujud manusia seutuhnya, seperti manusia sekarang ini.

Kubu Kedua (Yang ditentang oleh Agama-agama Rasul)
Dalam pemahaman Generatio Spontanea, bahwa evolusi dimulai dari munculnya kehidupan secara kebetulan, yang lalu berevolusi menjadi manusia seutuhnya. Atau faham teori tersebut, berkeyakinan bahwa awalnya mahluk hidup, muncul dari benda mati, dan berkembang terus. Hingga penyempurnaannya melalui evolusi.

Kubu Ketiga (Yang diyakini oleh Agami Jawi)
Dalam logika Seorang Kejawen, bahwa Tuhan Yang Maha Esa memberikan Kehidupan Awal Yang Hakiki, selanjutnya mereka Berevolusi. Logika inilah yang diyakini oleh Seorang Kejawen. Sehingga kami tidak memerlukan Dogma dan Ke-Iman-an, karena semuanya logis adanya.

Setelah pemberian nyawa atau kehidupan yang merupakan hak absolut Tuhan Yang Maha Esa, untuk memberikan kehidupan. Dari sinilah, atau pemahaman inilah yang diyakini oleh seorang Kejawen sebagai awal permulaan terbentuknya Mahluk Hidup, dan kemudian terbentuklah Manusia Purba, hingga ber-evolusi menjadi Manusia Seutuhnya, seperti sekarang ini.

Hal yang menguatkan Logika Berfikir Seorang Kejawen, adalah;
Kita lupa bahwa Bapak Teori Evolusi adalah Charles Darwin, dimana dalam bukunya "The Origin of Species" yang diterbitkan tahun 1859, sesungguhnya ia pun mengakui bahwa kehidupan, "pada mulanya dihembuskan oleh sang Pencipta ke dalam satu atau beberapa bentuk."

Selanjutnya seorang Kejawen melakoni Olah Roso, hingga akhinya seorang Kejawen dapat menemukan atau awalnya hanya merasakan adanya Tuhan Yang Maha Esa.

Sejarah Bukan Dongeng

Sejarah bukanlah sebuah dongeng, banyak Agama yang berkisah berdasarkan Dogma, dan akhirnya menuntut ke-Iman-nan seseorang. Hal ini dikarenakan, sulit untuk membuktikannya, atau mungkin memang tidak ada buktinya.

Seorang Kejawen harus selalu bertanya secara logika, agama yang dianutnya (Agami Jawi), sehingga ia tidak merasa atau mengalami pembodohan.

Dengan adanya sejarah yang benar, dimana selalu ada waktu dan tempat kejadiannya, Seorang Kejawen tidak memiliki ke-Iman-nan yang dipaksakan oleh Dogma

Karena menjadi Seorang Kejawen, kita selalu dituntut kejujuran, maka ke-Iman-an adalah sebuah ketidak jujuran kepada diri sendiri. Hal ini dikarenakan, adanya percaya yang dipaksakan.

Minggu, 29 September 2002

Olah Roso

“Olah Roso” dapat ditinjau dari berbagai tahapan, tahapan awal merupakan tahapan entry poin yang harus dilalui oleh setiap orang yang ingin malkoninya.

1. Bagi kita yang baru ingin memulai “Olah Roso”, kiranya kita harus mengerti betul mengenai diri kita sendiri.
A)Lakukan Olah Roso sebelum tidur, dan sebelum Sembahyang Malam hari.
B)Posisi telentang layaknya orang sedang melamun sebelum tidur.
C)Tanyakan pada diri kita sendiri, apakah hari ini kita membuat sesuatu yang merugikan pihak lain (orang lain, Alam, Alam Gaib, dlsb.)
D)Jika menurut Anda, Anda tidak berbuat sesuatu yang merugikan pihak lain, sudah selayaknya Anda bersyukur. Tetapi, jika menurut Anda, Anda berbuat sesuatu yang merugikan pihak lain, sudah selayaknya Anda pun memohon ampun pada Ghusti, bahwa Anda telah merugikan mahluk ciptaannya.

Setelah mengenal dan mengerti siapa diri kita. Saatnya kita dapat melangkah ke jenjang “Olah Roso” yang lebih kompleks.

2. Tahap Kedua, pada tahap ini kiranya Anda dapat memulai dengan Puasa-puasa dasar, sebelum melakukan beberapa puasa advance.
A)Puasa hari kelahiran
B)Puasa Mutih

3. Tahap Ketiga
A)Merenung atau Meditasi, dengan cara yang mudah, adalah dengan posisi telentang seperti orang sedang tidur.
B)Dalam Merenung atau Meditasi, arahkan pikiran Anda kepada hal-hal yang positif saja. Konsentrasikan bagaimana bahagia-nya menjadi orang yang baik dan mempunyai Budi Pekerti yang tinggi.

4. Tahap Keempat
Tahap ini, jika Anda telah menemukan Kebahagiaan melakoni semua tahap di atas tersebut, maka pasti Anda sudah menemukan Tahap yang Keempat ini. Disinilah, misteri yang paling membahagiakan bagi seorang Kejawen Sejati.

Selasa, 03 September 2002

Doa vs Bicara

Bicara merupakan interaksi komunikasi sesama manusia. Sedangkan Doa adalah perasaan dan pikiran kita yang ingin kita sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Seorang Kejawen Sejati, berbicara dengan sesama manusia saja ada tingkatannya. Usia Sebaya atau di bawahnya, dan Orang yang lebih Tua.
Jadi untuk berkomunikasi atau menyampaikan perasaan dan pikirannya kepada Ghusti, selain pemilihan bahasa yang santun, juga dengan tehnik "Olah Roso".

Pola Komunikasi

Sesama Manusia
Kita bicara -> ditangkap oleh lawan bicara -> dimengerti -> lalu dijawab.

Kepada Ghusti
Kita bicara dengan diri sendiri, apakah benar yang kita rasakan dan pikirkan - Sebelum kita sampaikan kepada Ghusti - Ghusti sudah mengerti dan sudah langsung menjawabnya.

Jadi kalau kita Doa atau Sembahyang, dengan bukan bahasa Ibu, dimana yang terjadi antara perasaan dan pikiran kita, mungkin tidak sesuai dengan bahasa yang kita sampaikan, meskipun demikian Ghusti akan tetap mengerti dan menjawab tepat sesuai permohonan perasaan dan pikiran kita, tetapi hal ini justru dapat memperolok-olok Tuhan Yang Maha Esa. Mengapa, karena kita tidak paham isinya.

Sebagai contoh, seorang pemuka agama yang paham benar dengan bahasa agama impor tertentu, memberikan doa yang notabene mendoakan dirinya, tetapi kita yang tidak mengerti, menggunakan doa tersebut untuk permohonan kita. Bagaimana???

Jadi untuk tidak memperolok-olok Tuhan Yang Maha Esa, seyogyanya Berdoa atau Bersembahyang dengan bahasa Ibu. Karena dengan bahasa Ibu, kita tahu persis, tidak hanya isi dan arti yang terkandung, tetapi makna yang terkandung pun kita paham. Selain itu, kita dapat memilihkan dan menggunakan kosa kata yang pantas kepada Ghusti.

Sebagai contoh, kata; Minta dan Mohon, mempunyai arti yang sama, tetapi pantaskah kita menggunakan kata minta kepada Tuhan Yang Maha Esa?

Doa vs Bicara

Bicara merupakan interaksi komunikasi sesama manusia. Sedangkan Doa adalah perasaan dan pikiran kita yang ingin kita sampaikan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Seorang Kejawen Sejati, berbicara dengan sesama manusia saja ada tingkatannya. Usia Sebaya atau di bawahnya, dan Orang yang lebih Tua.
Jadi untuk berkomunikasi atau menyampaikan perasaan dan pikirannya kepada Ghusti, selain pemilihan bahasa yang santun, juga dengan tehnik "Olah Roso".

Pola Komunikasi

Sesama Manusia
Kita bicara -> ditangkap oleh lawan bicara -> dimengerti -> lalu dijawab.

Kepada Ghusti
Kita bicara dengan diri sendiri, apakah benar yang kita rasakan dan pikirkan - Sebelum kita sampaikan kepada Ghusti - Ghusti sudah mengerti dan sudah langsung menjawabnya.

Jadi kalau kita Doa atau Sembahyang, dengan bukan bahasa Ibu, dimana yang terjadi antara perasaan dan pikiran kita, mungkin tidak sesuai dengan bahasa yang kita sampaikan, meskipun demikian Ghusti akan tetap mengerti dan menjawab tepat sesuai permohonan perasaan dan pikiran kita, tetapi hal ini justru dapat memperolok-olok Tuhan Yang Maha Esa. Mengapa, karena kita tidak paham isinya.

Sebagai contoh, seorang pemuka agama yang paham benar dengan bahasa agama impor tertentu, memberikan doa yang notabene mendoakan dirinya, tetapi kita yang tidak mengerti, menggunakan doa tersebut untuk permohonan kita. Bagaimana???

Jadi untuk tidak memperolok-olok Tuhan Yang Maha Esa, seyogyanya Berdoa atau Bersembahyang dengan bahasa Ibu. Karena dengan bahasa Ibu, kita tahu persis, tidak hanya isi dan arti yang terkandung, tetapi makna yang terkandung pun kita paham. Selain itu, kita dapat memilihkan dan menggunakan kosa kata yang pantas kepada Ghusti.

Sebagai contoh, kata; Minta dan Mohon, mempunyai arti yang sama, tetapi pantaskah kita menggunakan kata minta kepada Tuhan Yang Maha Esa?

Jumat, 28 Juni 2002

Doa-doa dasar

Yang dimaksud doa-doa dasar adalah, doa yang dapat dilakukan dalam berbagai kesempatan.

Bacaannya; Ghusti, hanya pada Mu aku Berpasrah, hanya pada Mu aku Berterimakasih, hanya pada Mu aku Memohon

Setelah itu, sebutkan niat kita ber-Doa. Contohnya, kita ingin memohon kesembuhan.

Ghusti, hanya pada Mu aku Berpasrah, hanya pada Mu aku Berterimakasih, hanya pada Mu aku Memohon
Ghusti, saya/aku/hamba memohon atas kesembuhan penyakit yang sudah saya/aku/hamba derita selama ini...... dlsb

Catatan :
Doa tersebut di atas, hanyalah contoh. Bukan berarti Anda harus meniru 100%. Seperti kita sepakati, bahwa hubungan setiap individu dengan Ghusti, memiliki hubungan yang unik.
Yang perlu benar-benar diingat adalah, doa Seorang Kejawen tidaklah sama seperti doa agama-agama import, yang gemar menggunakan "Kalimat Perintah" kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Doa-doa dasar

Yang dimaksud doa-doa dasar adalah, doa yang dapat dilakukan dalam berbagai kesempatan.

Bacaannya; Ghusti, hanya pada Mu aku Berpasrah, hanya pada Mu aku Berterimakasih, hanya pada Mu aku Memohon

Setelah itu, sebutkan niat kita ber-Doa. Contohnya, kita ingin memohon kesembuhan.

Ghusti, hanya pada Mu aku Berpasrah, hanya pada Mu aku Berterimakasih, hanya pada Mu aku Memohon
Ghusti, saya/aku/hamba memohon atas kesembuhan penyakit yang sudah saya/aku/hamba derita selama ini...... dlsb

Catatan :
Doa tersebut di atas, hanyalah contoh. Bukan berarti Anda harus meniru 100%. Seperti kita sepakati, bahwa hubungan setiap individu dengan Ghusti, memiliki hubungan yang unik.
Yang perlu benar-benar diingat adalah, doa Seorang Kejawen tidaklah sama seperti doa agama-agama import, yang gemar menggunakan "Kalimat Perintah" kepada Tuhan Yang Maha Esa.