Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik

Tidak ada satu Agama pun di dunia, yang bisa membuat orang jadi baik.
Yang ada; Orang baik dan mempunyai niat yang baik, menggunakan Agama apa pun, untuk tujuan kebaikan. Pasti dia akan jadi baik.
Jadi pilihlah Agama yang sesuai dengan Logika dan Hati Nurani.
Tampilkan postingan dengan label Sembahyang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sembahyang. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 September 2010

Sembahyang

Bagaimana sembahyang ?
Untuk sembahyang sehari-hari yang rutin adalah, pada saat “Bangun Tidur” dan ketika “Menjelang Tidur”.

Maknanya; Orang Lahir (Bangun Tidur) dan Meninggal (Tidur)

Bagaimana posisi sembahyang?
Kita cukup terlentang layaknya orang tidur, dengan "Telapak Tangan Kiri Diletakan Tepat di atas Jantung", dan "Telapak Tangan Kanan Diletakan Tepat di atas Puser.

Maknanya; Jantug (Organ Vital Kehidupan - Yang membersihkan Getih / Darah), dan Puser (Tali Kehidupan Ketika Kita di dalam Kandungan)

Apa doanya ketika sembahyang?

Bangun Tidur
Terimakasih Ghusti, saya diberi kesempatan kembali untuk hidup hari ini. “Saudara Papat limo pancer", mari kita sama-sama menikmati hari ini dengan baik, semoga hidup kita juga bermanfaat bagi Ghusti dan Pihak Lain (
Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, Orang Lain, dlsb).

Menjelang Tidur
Ghusti, terimakasih untuk hari ini. Niat saya tidur, ikhlas dan pasrah pada Ghusti. “Saudara Papat limo pancer", selamat tidur, badan tidur hati tetap bangun. Terimakasih, sudah bersama-sama dengan saya dari Bangun Tidur hingga Tidur Kembali.

Sembayang lainnya:
Dapat dilakukan dalam keadaan Duduk atau Sila, Berdiri, maupun Terlentang.
Selain sembahyang wajib, akan lebih baik dilakukan dalam keadaan Duduk atau Sila, "Telapak Tangan Kiri Menempel di Dada, dan Telapak Tangan Kanan Menempel pada Puser", atau dengan "Tangan Kanan di Bawah Tangan Kiri".

Makna Tangan Kanan di Bawah Tangan Kirinya; Yang Kotor di Bawah Yang Bersih (Darah Bersih dari Jantung mengalir pada bagian Tubuh sebelah Kiri, sementara aliran Darah Kotor mengalir pada bagian Tubuh sebelah Kanan).

Menyembayangi orang Meninggal:
Doanya : Dari Surga kembali ke Surga. Ghusti mohon ampunan untuk teman, saudara, dlsb.(bisa 3 x atau 7 x) Semoga dapat kembali ke asalnya, dengan jalan yang lurus dan terang. Dari Surga kembali ke Surga.

Catatan:
Diakhir sembahyang atau doa, mengapa kita tidak menggunakan kata Amin?
Kata Amin, jika diterjemahkan adalah: kabulkanlah!
Kata kabulkanlah, adalah kata perintah. Jadi tidak sepantasnya kita memerintah Tuhan Yang Maha Esa.
Sebaliknya, "berterimakasihlah" setiap menyudahi sembahyang atau berdoa. Karena kata itulah kebalikannya dari kata Amin
Untuk bahasa Jawa-nya; matursembahnuwun Ghusti
Untuk bahasa Indonesianya; Terimakasih Ghusti
Ghusti selalu memberikan kita yang terbaik, masa manusia masih menyusuruh mengabulkan keinginan serakahnya.

Senin, 05 April 2010

Makna Bahasa dalam Sembahyang

Bahasa Ibu seseorang adalah sebuah prilaku yang melekat pada diri orang tersebut. Sehingga, apapun yang dikatakan merupakan pengadilan bagi dirinya sendiri. Oleh karenanya ada pribahasa; Mulutmu Harimaumu.

Intinya, jika kita bersembahyang dengan bahasa Ibu, hal ini akan mempunyai dampak yang lebih positif, ketimbang kita berdoa dengan bahasa hafalan yang kita tidak mengerti maknanya. Karena dari apa yang kita ucapkan, kita lebih mengerti akan tanggung jawab yang kita emban, yang mana semuanya tercermin dalam rangkaian kosa kata kita dalam berdoa.

Kita semua tahu, makna sembahyang itu tidak hanya memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga bertanggung jawab atas apa yang kita mohonkan.

Bagi orang yang punya niat jahat, memang lebih enak sembahyang dengan bahasa yang ia sendiri tidak mengerti, karena (secara psikologis) hal itu tidak menimbulkan rasa tanggung jawab pada dirinya, yang ada hanyalah harapannya saja yang ia mohonkan.

Dengan demikian, bagi orang yang punya niat jahat, sembahyang dengan doa-doa yang ia sendiri tidak mengerti maknanya, akan melindungi dirinya dari rasa berdosa.

Sebagai seorang yang Berbudi Luhur, hendaknya kita dapat bersyukur, sekaligus mempertanggungjawabkan doa yang kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dosa dan Rasa Berdosa

Dosa merupakan hukuman kepada seseorang dari perbuatan buruknya kepada Pihak Lain (Orang Lain, Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, dlsb). Siapakah yang berhak untuk menilai itu dosa atau tidak? Jawabannya absolut, hanya Tuhan Yang Maha Esa

Ada pepatah, ketidaktahuan membuat orang lebih merasa nyaman dalam pikirannya. Karena Dosa seseorang, hanya Tuhan Yang Maha Esa yang mengetahuinya. Jadi sebenarnya, semua orang tidak akan terusik pikirannya jika dirinya berbuat kejahatan, kalau memang ia lahir dan tumbuh dibesarkan di lingkungan yang jahat.

Tetapi perlu diingat, sebagai keluarga normal, dari kecil kita selalu diajari oleh orang tua kita, untuk menjadi orang yang Berbudi Luhur. Dengan nilai-nilai, atau horma-norma yang baik, akan menumbuhkan Cognitif, Affektif dan Motorik pikiran yang positif. Sehingga jika kita berbuat menyimpang dari norma yang diajarkan oleh orang tua kita, maka dalam pikiran kita timbul rasa bersalah.

Sedangkan Rasa Berdosa adalah, perasaan yang selalu menghantui kita, karena perbuatan buruk kita sendiri kepada Pihak Lain (Orang Lain, Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, dlsb).

Bagaimana seseorang dapat merasa berdosa? Hanya jika ia mengerti makna dari doa yang ia ucapkan.

Catatan:
Beruntunglah bagi Anda yang berdoa dengan bahasa yang Anda sendiri tidak mengerti, karena Anda tidak pernah merasa bersalah. Tetapi, semakin banyak orang yang seperti Anda, maka semakin cepat pulalahh dunia ini akan hancur.

Sabtu, 27 Maret 2010

Bahasa untuk Doa dan Sembahyang

Saya memang cenderung menggunakan kosa kata bahasa Indonesia dalam blog ini, dan bukan menggunakan bahasa Jawa. Hal ini dikarenakan, Agama Jawi adalah bukan Agamanya orang Jawa saja, karena Jawi itu bukan berarti Jawa. Tetapi, “Jawi” mempunyai makna “Memiliki Budi Pekerti Yang Luhur” yang didalamnya sarat dengan muatan “Keseimbangan dan Kebahagiaan Hidup.”

Apa yang membuat kita dapat merasa dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa, ketika kita berdoa atau sembahyang menghadap Nya?
- Kita harus mengerti terlebih dahulu, makna apa yang ingin kita lafalkan (baik dalam hati, maupun diucapan dengan kata-kata). Karena hal ini, merupakan proses antara “Alam Sadar dan Alam Bawah Sadar” kita, bahwa kita benar-benar membutuhkan Ghusti.
- Dengan mengerti dan menghayatinya secara alami, hal ini akan membuat “Alam Bawah Sadar” kita dapat menangkap dan merespon makna tersebut dengan benar, ketika kita mengucapkan kata-kata yang memang kita mengerti dan menghayatinya sejak kita kecil, atau disebut dengan menggunakan bahasa Ibu.
- Dengan menggunakan bahasa Ibu, ibarat kita hidup di dunia ini, orang yang pertama memberikan kesempatan untuk kita melanjutkan hidup kita adalah Ibu. Oleh sebabnya, Ibu diberikan kemampuan oleh Ghusti, untuk dapat menyusui anaknya. Di lain pihak, bahasa Ibu pun, adalah bahasa yang pertama didengar oleh “Alam Bawah Sadar” kita, sejak kita berada dalam kandungannya.
- Jadi, dengan menggunakan bahasa Ibu, sudah pasti, kita mengerti dan menghayati secara alami tanpa pemaksaan, makna dari kosa kata yang kita lafalkan.
- Kekuatan pengertian antara “Alam Sadar dan Alam Bawah Sadar” kita, adalah sebuah kekuatan yang jika digunakan dengan keikhlasan kepada Ghusti, maka hasilnya pun akan menghasilkan segala sesuatu yang positif.

Mengapa ada beberapa Agama yang mengharuskan berdoa atau sembahyangnya dengan bahasa tertentu?
- Memang, setiap bahasa memiliki kekuatan atau ruh dari bahasa itu sendiri, dalam menjelaskan sesuatu. Seperti kita tahu, bahasa Jerman ruhnya adalah mengenai hal-hal yang berhubungan dengan tehnik, dimana kita tahu, kosa kata mengenai hal-hal tehnik, tidak ada bahasa yang sekomplit bahasa Jerman. Di sini lain, bahasa Prancis, memiliki kekuatan atau ruh bahasa “Cinta”, artinya, bahasa Prancis memiliki kosa kata yang lebih komplit, mengenai hal-hal yang berhubungan dengan “Cinta”, jika dibandingkan dengan bahasa lainnya.
- Selain itu, yang perlu kita ketahui bersama, bahwa bahasa Jawa adalah bahasa yang juga diakui oleh dunia internasional, sebagai bahasa pergaulan yang paling komplit di dunia. Tetapi, Agama Jawi tidak memaksakan untuk digunakan oleh seorang Kejawen. Hal ini jelas, dengan menggunakan bahasa Ibu, kita akan lebih mendapatkan ketenangan bathin, karena kita akan dapat benar-benar berkomunikasi dengan Nya.

Bolehkah kita Berdoa dan Sembahyang dalam bahasa Ibu?
- Tidak saja dibolehkan, tapi justru diharuskan. Hal ini karena, agar kita bisa mendapatkan rasa kedekatan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebabnya, kita tidak perlu menghafal dan menghayatinya lagi makna kosa kata yang akan kita lafalkan.
- Proses mengerti dan menghayati “Makna Kosa Kata” secara alami, akan menghasilkan keikhlasan yang alami pula dari dalam diri kita.

Catatan:
Mahluk Halus atau mahluk Ghaib saja, mengerti apa yang dimaksud oleh seluruh manusia di muka bumi ini. Lalu bagaimana dengan Tuhan Yang Maha Esa? Tuhan Yang Maha Esa, tidak hanya mengerti setelah diucapkan oleh manusia, tetapi Tuhan Yang Maha Esa sudah lebih tahu sebelum kita ucapkan sekalipun.

Senin, 13 Juli 2009

Malu Mengaku Kejawen

Kalau kita membaca kliping-kliping tahun 70-an (tepatnya sekitar tahun 1975 - 1979), terasa benar, pada saat itu masyarakat Indonesia malu mengaku produk dalam negeri.

Hal ini bukan hal yang kebetulan, tetapi ada kekuatan luar yang membawa dampak ini. Kekuatan luar tersebut, tentunya tidak dapat berjalan secara mulus, kalau tidak ada penghianat-penghianat Bangsa ini yang membantu masuknya produk asing, dan mempersulit berkembangnya Produk Dalam Negeri.

Hal tersebut mengingatkan kita pada pristiwa penghianatan Raden Patah YTPHN, terhadap Ayah kandungnya sendiri, demi membantu penyebaran Agama Pendatang.

Pada priode tersebut, mulailah terasa, bahwa banyaknya opini negatif terhadap penganut Agami Jawi, yang dibuat oleh kelompok Agama Pendatang tersebut.

Mulai dari konsep syirik, yang tadinya tidak dikenal kosa kata tersebut di tanah Jawa ini, karena memang sebenarnya Agami Jawi tidak menyembah berhala / Mahluk Halus / Jin atau roh-roh lainnya, seperti yang selalu dituduhkan Agama Pendatang kepada pemeluk Kedjawen.

Di lain pihak, sifat orang Jawa secara mayoritas adalah orang tidak senang berkonflik, maka tuduhan tersebut tidak ditanggapi secara serius. Akibatnya, dari generasi ke generasi selanjutnya, terkikislah pemeluk Agami Jawi. Yang terjebak dalam opini Agama Pendatang.

Yang perlu diingat, semua Agama di Dunia ini, pasti mempunyai atau memiliki satu titik fokus untuk mereka melalukan ritual Sembahyang. Agama Hindu dengan Patung-patung Suci-nya, Agama Budha juga demikian, Agama Kristen dengan Patung Bunda Maria dan Tuhan Yesus, Agama Islam dengan Kabah-nya.

Bagaimanapun mereka berkelit, semua Benda tersebut adalah sebagai sarana arah konsentrasi dan pembentukan imajinasi mereka. Lagi-lagi masalah ke-Iman-an dan Dogma yang ditonjolkan dalam mengkunci definisi Benda yang mereka Sembah Sebagai Arah Imajinasi dan Konsentrasi, sebagai Definisi yang mereka terjemahkan menurut keyakinan pendahulunya.

Memang, pemeluk agama dimanapun, mungkin hanya segelintir saja dari pemeluknya yang mau benar-benar mengerti makna yang terkandung dalam ritual-ritualnya.

Catatan:
Kejawen, sebenar-benarnya adalah satu-satunya Agama di muka bumi ini, yang tidak membutuhkan Benda apapun untuk melakukan ritual. Hanya saja, tidak setiap orang memilki daya konsentrasi yang tinggi, sehingga bagi mereka inilah dibutuhkan sebuah Benda untuk arah konsentrasinya. Hal ini dikarenakan, tidak setiap orang dapat melakukan Olah Roso dengan penuh rasa pasrah kepadaNya.

Sementara banyak ilmu beladiri di Nusantara ini, yang menggunakan kekuatan Ghaib. Seperti di semua dan setiap bangsa yang ada di Dunia ini, memiliki ilmu-ilmu beladiri yang berkekuatan Ghaib pula.