Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik

Tidak ada satu Agama pun di dunia, yang bisa membuat orang jadi baik.
Yang ada; Orang baik dan mempunyai niat yang baik, menggunakan Agama apa pun, untuk tujuan kebaikan. Pasti dia akan jadi baik.
Jadi pilihlah Agama yang sesuai dengan Logika dan Hati Nurani.
Tampilkan postingan dengan label Teroris. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teroris. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Mei 2010

Cuci Otak dan Kejawen

Cuci otak merupakan tindakan Subyek mempengaruhi Obyek dengan cara, membawa logika berfikir Obyek ke pola pikir yang diingini oleh Subyek.

Prosesnya adalah: Subyek dan Obyek pertama-tama memiliki satu pijakan narasumber yang sama. Nara sumber dapat berupa kitab suci, atau buku-buku yang diterjemahkan dengan merujuk pada kitab suci tersebut, dengan beberapa ayat-ayat yang meyakinkan. Bagi orang-orang yang berambisi untuk masuk Surga, yang notabene belum ada bukti, bahwa orang yang meninggal dengan menyakiti dirinya sendiri, maupun orang lain, bisa masuk Surga.

Bagi seorang Kejawen, dimana Perasaan Surgawi dan Kejamnya Neraka yang hakiki ada dalam hatinya sendiri.
Mengapa Perasaan Surgawi ada dalam hati kita sendiri? Surga adalah sebuah perasaan yang membahagiakan, yang mana dirinya sudah berhasil menikmati hidupnya yang bermanfaat, yangmana sekaligus prilakunya dapat bermanfaat juga bagi Pihak Lain (Orang Lain, Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, dlsb).

Mengapa Kejamnya Neraka ada dalam hati kita sendiri? Neraka adalah sebuah perasaan bersalah, karena merugikan Pihak Lain (Orang Lain, Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, dlsb). Perasaan Benar dan Bersalah, bagi seorang Kejawen, didapat dari hasil Olah Roso. Sehingga ketika perasaan Kejamnya Neraka muncul dalam dirinya, maka seorang Kejawen, tidak henti-hentinya untuk meminta ampun pada Ghusti, untuk memohon tuntunanNya.

Kalau perasaan Surgawi tersebut sudah ada dalam diri seseorang, maka seorang yang Berbudi Luhur, tidak akan lagi terpengaruh untuk berambisi masuk Surga.
Tetapi bagi seorang Kejawen yang masih terlalu merasa bersalah, dengan Olah Roso (tidak memerlukan Nara Sumber apapun selain dirinya) dirinya akan dapat menemukan jalan keluarnya sendiri.

Dengan penjelasan tersebut di atas, jadi boleh dibilang, Seorang Kejawen Sejati, tidak mungkin untuk dicuci otaknya dalam konteks "Hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa." Hal ini dikarenakan, Seorang Kejawen Sejati, sudah memiliki hubungan yang unik dengan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga orang lain tidak dapat mencampurinya atau mempengaruhinya, pola hubungan tersebut kepada Janji-janji untuk masuk Surga.

Minggu, 02 September 2007

Agama = Ideologi?

Semua Agama di dunia berawal, atau lahir dari nilai-nilai tradisi setempat yang selanjutnya dilaksanakan dengan kepercayaan-kepercayaan yang diritualkan sejalan dengan Tradisi Lokal tersebut, sehingga tidak mengherankan, kalau para pakar sosiologi menyatakan, bahwa semua Agama di Dunia lahir pada awalnya dari Agama Lokal.

Sementara, Ideologi lahir dari pemikiran-pemikiran melalui proses thesis anti-thesis, yang pada akhirnya melahirkan aturan-aturan sosial yang komplit pula.

Perbedaan esensial antara Agama dengan Ideologi adalah, terletak pada pola Hukuman dan Penghargaannya.

Agama menerapkan hitungan hukuman dengan "Dosa", yang masih sangat imajinatif, dan harus dipercayai dengan melalui Iman dan Dogma (Kebalikan dari Fakta dan Data).

Sementara Ideologi menerapkan hukumannya dengan Hukum Positif setempat yang berlaku, dan harus dilaksanakan dengan Fakta dan Data (Kebalikan dari Iman dan Dogma).

Sementara, kesamaan antara Agama dengan Ideologi adalah, untuk dapat mengerti aturan-aturan Agama atau Ideologi, secara ceteris paribus, orang harus membaca dan menghafalkannya terlebih dahulu.

Sehingga, tidak mengherankan, ketika seseorang yang hafal dan eksis di lingkungannya karena pengetahuannya terhadap Agama atau Ideologi tertentu, secara psikologis, orang tersebut akan ketagihan untuk terus membaca dan menghafalkan segala sesuatunya, agar dia dapat tetap eksis sebagai narasumber.

Ketagihan untuk menjadi seorang ahli dalam sebuah Agama atau Ideologi tertentu, membuat seseorang menjadi seorang yang fanatik terhadap apa yang ia baca dan percayai.

Kefanatikan seseorang inilah, yang dapat dipergunakan oleh orang-orang ahli "Cuci Otak" untuk menjadikan targetnya menjadi seorang Teroris.

Agami Jawi bukan Agama yang perlu dihafalkan, tetapi Agama yang perlu dirasakan dengan perasaan. Dengan proses "
Olah Roso", Seorang Kejawen Sejati sudah menemukan Surga dan Nerakanya, jadi dirinya tidak lagi perlu percaya dengan bacaan-bacaan yang menyesatkan.

Dengan "Olah Roso", seseorang akan merasakan Kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, sehingga ia tidak perlu menjadi orang yang fanatik. Karena Tuhan Yang Maha Esa ada karena kita memang merasakannya. Jadi seorang Kejawen Sejati, tidak berangan-angan masuk ke Surga, karena ia sudah menemukan Kedamaian, ketika ia dapat berinteraksi langsung tanpa perantara (seperti Agama Rosul, yang menggunakan Rosul sebagai Perantaranya) kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Jadi dapat dipastikan pemeluk Agami Jawi, tidak akan pernah terjerumus menjadi seorang teroris. Karena ia sudah menadapat ketenangan yang hakiki melalui Mangunggaling Kawulo Ghusti.