Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik

Tidak ada satu Agama pun di dunia, yang bisa membuat orang jadi baik.
Yang ada; Orang baik dan mempunyai niat yang baik, menggunakan Agama apa pun, untuk tujuan kebaikan. Pasti dia akan jadi baik.
Jadi pilihlah Agama yang sesuai dengan Logika dan Hati Nurani.

Jumat, 05 April 2002

Tapa

Apapun nama dan pelaksanaannya, bila dilakukan dengan niat yang tulus, maka tak mungkin akan membuat manusia yang melakoninya akan celaka. Intinya adalah, ketika seseorang melakoni tapa dengan ikhlas, maka orang tersebut akan terbersihkan tubuh fisik dan eteriknya dari segala macam kotoran.

Tapa Jejeg
Tidak duduk selama 12 jam

Lelono
Melakukan perjalanan (jalan kaki) dari jam 12 malam sampai jam 3 pagi (waktu ini dipergunakan sebagai waktu instropeksi diri).

Kungkum
Tatacara tapa Kungkum adalah sebagai beikut :
a) Masuk kedalam air dengan tanpa pakaian selembar pun dengan posisi bersila (duduk) didalam air dengan kedalaman air setinggi leher.
b) Biasanya dilakukan dipertemuan dua buah sungai
c) Menghadap melawan arus air
d) Memilih tempat yang baik, arus tidak terlalu deras dan tidak terlalu banyak lumpur didasar sungai
e) Lingkungan harus sepi, usahakan tidak ada seorang manusiapun di sana
f) Dilaksanakan mulai jam 12 malam (terkadang boleh dari jam 10 keatas) dan dilakukan lebih dari tiga jam (walau ada juga yang memperbolehkan pengikutnya kungkum hanya 15 menit).
g) Tidak boleh tertidur selama Kungkum
h) Tidak boleh banyak bergerak
i) Sebelum masuk ke sungai disarankan untuk melakukan ritual pembersihan (mandi dulu)
j) Pada saat akan masuk air, doanya : “Putih-putih mripatku, Ireng-ireng mripatku, Telenging mripatku, semua krana Gusti ”
k) Pada saat masuk air, mata harus tertutup dan tangan disilangkan di dada
l) Nafas teratur
m) Kungkum dilakukan selama 7 malam biasanya

Ngalong
Tapa ini dilakuakn dengan posisi tubuh kepala dibawah, dan kaki diatas (sungsang). Pada tahap tertentu, tapa ini dilakukan dengan kaki yang menggantung di dahan pohon, dan posisi kepala di bawah (seperti kalong/kelelawar). Pada saat menggantung dilarang banyak bergerak. Secara fisik bagi yang melakoni, tapa ini melatih keteraturan nafas. Biasanya puasa ini dibarengi dengan puasa Ngrowot.

Ngeluwang
Tapa Ngeluwang adalah tapa paling menakutkan bagi orang-orang awam, dan membutuhkan keberanian yang sangat besar. Tapa Ngeluwang disebut-sebut sebagai cara untuk mendapatkan daya penglihatan gaib dan menghilangkan sesuatu. Tapa Ngeluwang adalah tapa dengan dikubur di suatu pekuburan atau tempat yang sangat sepi. Setelah seseorang selesai dari tapa ini, biasanya keluar dari kubur maka akan melihat hal-hal yang mengerikan (seperti arwah gentayangan, jin dlsb). Sebelum masuk kekubur, disarankan baca doa :
“Niat ingsun Ngelowong, anutupi badan kang bolong siro mara siro mati, kang ganggu maang jiwa ingsun, lebur kaya dene banyu krana Gusti.”

Kamis, 28 Maret 2002

Doa Untuk Memohon Kesembuhan

Ghusti
Terimakasih atas kebahagiaan yang Ghusti berikan kepada ingsun
- Orang Tua yang baik dan penuh kasih sayang kepada ingsun
- Anak-anak yang membahagiakan
- Rumah tempat tinggal yang nyaman
- Dst. (Kebahagiaan yang dirasakan)

Ghusti
Dalam menjalani hidup ini sudah banyak dosa2 yang saya lakukan
- Sering merasa terpaksa untuk menyembahMu
- Sering lalai dalam menjaga anak2 saya/dalem titipanMu
- Melawan kata2 Orangtua
- Dst. (Kesalahan2 yang bisa diingat)
Ingsun mohon ampunanMu Ghusti

Ghusti
Saat ini saya/dalem menerima kesedihan
Anak saya … (nama anak) … titipanMu menderita sakit … (penyakit)
Dan saya/dalem tidak tahu harus berbuat apa
Saya/dalem mohon petunjuk dan tuntunanMu

Ghusti
Saya/dalem mohon kepadaMu agar anak saya/dalem mendapat kesempatan dari-Mu
- Menjadi seseorang yang baik
- Menjadi istri / suami yang menyayangi keluarga
- Menjadi istri yang berbakti kepada suami / Menjadi suami yang bisa mensejahterakan Anak dan istri.
- Dst. (Keinginan2 lainnya)
Saya/dalem mohon agar Ghusti kabulkan permintaan saya/dalem

Ghusti
Terimakasih atas izinMu memohon dan menikmati semua karunia2Mu yang saya/dalem terima.

Sabtu, 25 Agustus 2001

Iri, dengki dan sirik

Mengapa Seorang Kejawen Sejati tidak mungkin untuk Iri dan Dengki?

Hal ini sebenarnya dikarenakan tahapan-tahapan Olah Roso. Pada tahap Olah Roso II (Segitiga Interaksi Diri), aliran ketulusan yang baik untuk orang lain, sebenarnya mengalir pula pada ketulusan kepada diri kita sendiri.

Sehingga jika Anda melihat orang atau tetangga Anda yang berhasil dengan sudut pandang dengki, maka berarti Anda pun mendoakan diri Anda sendiri untuk tidak berhasil.

Oleh karenanya, sebagai Seorang Kejawen, untuk mencapai Ketulusan Hati, perlu menerapkan Segitiga Interaksi Diri, sebagai hal yang inheren dalam prilaku sehari-hari.

Dalam Olah Roso III, saya tidak akan menjelaskannya proses pencapaiannya, hal tersebut akan Anda dapatkan sendiri, ketika Anda sudah melewati tahap Cognintif, dan Affektif, dalam menerapkan SID (Segitiga Interaksi Diri), atau Anda sudah sampai tahap motorik dalam berprilaku Segitiga Interaksi Diri.

Karena Olah Roso III, akan dapat membahayakan diri Anda dan Orang Lain, jika Anda salah menerapkannya.

Sebagai gambaran Olah Roso III tetap bukan Kanduragan atau Kanuragan. Karena Olah Roso III, dilatihnya tidak dengan gerakan apapun layaknya ilmu bela diri. Olah Roso III, akan datang pada waktunya, jika Anda benar-benar menghayati Agami Jawi dengan Tulus dan Ikhlas.

Jumat, 29 Juni 2001

Kearifan Lokal

Mengapa Indonesia terpuruk?
Karena manusia yang mayoritas menganut Agama Impor, tidak mengenal Kearifan Lokal seutuhnya.
Sedangkan dalam Agami Jawi, hal tersebut sudah termasuk dalam, bagaimana seorang Kejawen memperlakukan Pihak Lain (Orang Lain, Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, dlsb).

Dalam keyakinan alam bawah sadar orang-orang yang hidup di wilayah Indonesia, mempelakukan Alam selayaknya kita memperlakukan orang lain (dalam konteks Agami Jawi).

Kalau perlakuan terhadap Pihak Lain, kita lakukan dengan benar, maka masyarakat Indonesia tidaklah menderita seperti sekarang ini.

Senin, 14 Mei 2001

Kearifan Lokal (Local Wisdom)

Kearifan Lokal adalah, nilai-nilai yang sudah dimiliki Masyarakat Lokal Nusantara secara turun temurun, yang mempunyai fungsi, mengatur interaksi kegiatan masyarakat atau komunitas-nya, memperlakukan Alam sekitarnya, termasuk pola pergaulan yang arif dan bijaksana.

Mungkin pernah terbersit di dalam benak kita, "mengapa pada zaman Nenek Moyang kita dahulu, jarang sekali terjadi atau bahkan tidak pernah terjadi Bencana Alam?" yang disebababkan oleh ulah manusianya sendiri, dan juga "mengapa jarang sekali terjadi Perselisihan Antar Warga?". Jawabannya adalah; Kearifan Lokal-lah yang menyebabkan jarangnya terjadi hal-hal buruk seperti itu. Hal ini dikarenakan, Masyarakat Nusantara dengan Kearifan Lokal-nya, menjalani kehidupannya hari demi hari. Dimana dalam nilai-nilai yang terkandung dalam Kearifan Lokal Bangsa Indonesia, membuat interaksi Manusia dengan Manusia, dan Manusia dengan Alam tampak begitu saling menyayangi.

Nilai-nilai "Kearifan Lokal Bangsa Indonesia" digunakan oleh Nenek Moyang kita, karena mereka sadar, bahwa hidup ini saling bertergantungan antara satu dan lainnya, termasuk pada Alam sekitar. Sehingga Nenek Moyang kita pun selalu bercermin pada hubungan Kearifan Lokal.

Intinya, bagaimana Alam bisa memberikan yang terbaik bagi manusia, jika manusia yang hidupnya tergantung pada Alam tersebut, berlaku tidak baik kepada Alam itu sendiri. Oleh karenanya, agar alam tidak murka, pola interaksi yang guyub antar sesama Manusia, antar Manusia dengan Alam, harus terus dijaga berdasarkan nilai-nilai Kearifan Lokal Bangsa Sendiri.

Oleh karenanya, Nenek Moyang kita sangat memelihara Alam, termasuk yang hidup di sekitarnya, seperti; Binatang, dan Tumbuh-tumbuhan yang merupakan bagian dari Alam itu sendiri. Sehingga Nenek Moyang kita tidak pernah memburu Binatang, atau menebang Tumbuhan, hanya karena untuk kesenangan belaka. Hal inilah yang membuat Alam bersahabat dengan manusia pada zaman munculnya peradaban di Dunia ini, (Menurut Prof Santos - peneliti Atlantis yang hilang) yang diawali pada 4425 tahun sebelum Masehi oleh Nenek Moyang kita.

Memahami "Kearifan Lokal" secara fungsional, maka sudah selayaknya, sebagai Manusia, menggunakan Perasaan dan Akal Pikiran untuk hal-hal yang baik. Jadi pergunakanlah Pikiran dan Perasaan kita untuk menstimulus Jiwa dan Raga pada hal-hal yang bijak, dan bukan hanya digunakan untuk mengumbar hawa nafsu saja, dalam memperlakukan Alam sekitar termasuk seluruh penghuninya, tempat kita menumpang hidup.

Menyitir kata-kata seorang Filsuf Indonesia, "Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik - Tidak ada satu Agama pun di dunia, yang bisa membuat orang jadi baik. Yang ada; Orang baik dan mempunyai niat yang baik, menggunakan Agama apa pun, untuk tujuan kebaikan. Pasti dia akan jadi baik. Jadi pilihlah Agama yang sesuai dengan Hati Nurani"

Jadi jelas, dengan kita menjalani Kearifan Lokal dengan tulus, maka Sehat Seutuhnya ada di depan Mata kita.