Agama Tidak Membuat Orang Jadi Baik

Tidak ada satu Agama pun di dunia, yang bisa membuat orang jadi baik.
Yang ada; Orang baik dan mempunyai niat yang baik, menggunakan Agama apa pun, untuk tujuan kebaikan. Pasti dia akan jadi baik.
Jadi pilihlah Agama yang sesuai dengan Logika dan Hati Nurani.

Rabu, 12 Mei 2010

Makna Kejawen: Kitab dan Pancing

Banyak orang memvonis, bahwa Kedjawen bukanlah agama, melainkan hanya kepercayaan semata. Dalilnya, karena Kedjawen tidak memiliki Kitab sebagai rujukan.

Bagi agama Rasul, Kitab menjadi penting karena memang agar para penganut agama mereka, tidak dapat atau tidak diizinkan berinteraksi langsung dengan sang Penciptanya.

Ibarat Pancing dan Ikan, dalam agama Rasul, para penganutnya langsung diberi ikan. Sehingga para penganutnya, seolah akan dapat lebih mudah untuk mengerti kaidah-kaidah komunikasi dengan sang Pencipta, dengan pola menghafal.

Sementara pada Kejawen, kita diberi pancing untuk mencari tahu bagaimana heningnya berkomunikasi dengan sang Pencipta, hal ini tidak perlu dihafal. Karena Olah Roso membuat kita berinteraksi sesungguhnya dengan sang Pencipta.

Makna Kejawen: Berpakaian dan Bertutur Kata

Agama adalah bukan sesuatu yang perlu diperlihatkan dalam kaitannya dengan eksistensi seseorang. Memang, ada agama yang memiliki fashion sendiri, untuk mencirikan agama mereka.
Kalau hal itu yang menjadi esensi dari orang-orang yang memeluknya, itu sama saja orang-orang tersebut membeli barang abal-abal, yang penting seolah-olah mereka memiliki barang yang asli.

Berpakaianlah yang sopan dan bertutur katalah yang santun, kalau kita ingin menjadi seorang Kejawen Sejati. Dari Sopan Santun kita, tentunya kita akan memperkecil kemungkinan menyakiti pihak lain (Orang Lain, Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, dlsb). Dengan menjaga sopan santun tadi, sesungguhnya itu merupakan hal dasar, kalau kita ingin mengakui dalam hati, bahwa kita adalah seorang Kejawen Sejati.

Selasa, 11 Mei 2010

Makna Kejawen : Tuhan, Anak-anak Kita, dan Kita

Bicara mengenai hubungan Tuhan Yang Maha Esa dengan Kita, dapat digambarkan dari hubungan Tuhan Yang Maha Esa dengan anak-anak kita.

Semua agama di dunia, juga mempunyai pemahaman yang sama, bahwa Anak adalah Titipan Tuhan Yang Maha Esa Kepada Kita.

Artinya: dari kelahirannya, Anak Kita memiliki hubungan yang khusus dengan Tuhan Yang Maha Esa, sampai-sampai kita dititipkan oleh Nya.

Apa kewajiban kita untuk dapat mengabdi pada Nya, yakni membimbing anak-anak kita ke jalan yang Berbudi Luhur. Mengapa?

Karena nantinya anak-anak kita pun akan mendapat titipan dari Nya.

Sirkulasi ini berjalan terus berulang hingga akhir zaman.

Kenapa anak disebut sebagai Titipan Tuhan Yang Maha Esa?
Karena kelak, dirinya akan menjadi Utusan Nya dalam membimbing anak-anak mereka.

Di sinilah esensi hubungan kita (Kejawen) dengan Tuhan Yang Maha Esa, bahwa kita semua kelak sebagai utusan Nya, yang wajib menjaga keharmonisan antara kita semua termasuk Orang Lain, Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, dlsb

Makna Kejawen : Manunggaling Kawula Ghusti

Manunggaling Kawula Ghusti, merupakan makna yang dalam bagi Seorang Kejawen. Oleh karenanya banyak pemuka-pemuka agama yang non Kejawen, memelintir esensi dari makna Manunggaling Kawula Ghusti itu sendiri.

Hal ini tidak lain dan tidak bukan, untuk memuluskan pemasaran agama import yang dibawanya ke dalam Masyarakat Jawa yang sengkretis. (Mudah2an di kemudian hari Masyarakat Jawa lebih Waspada dengan pengaruh budaya asing)

Manunggaling Kawula Ghusti sama sekali bukan bermakna bersatunya kita dengan Tuhan Yang Maha Esa.

Makna sebenarnya dari Manunggaling Kawula Ghusti adalah, bahwa hubungan seorang Kejawen dengan Tuhan Yang Maha Esa, tidak melalui perantara apapun seperti yang dilakukan oleh agama-agama Rasul.

Dalam pemahaman Kejawen, hubungan setiap orang kepada Tuhan Yang Maha Esa adalah hubungan yang unik, karena pada awalnya setiap orang yang lahir di muka bumi adalah Titipan Tuhan Yang Maha Esa.

Pemelintiran tersebut, jelas untuk kepentingan penyebaran agama impor tersebut.

Catatan :
Unik adalah tidak ada duanya. Seperti dot com misalnya, tidak ada dot com yang kembar. Lebih mudahnya; kejawenonline.blogspot.com sementara secara formal ini milik saya, tidak ada orang lain secara formal yang dapat mengakui bahwa ini miliknya.

Analogi lain:
Jika kita mencintai dan menyayangi Ibu kandung kita, dan mengatakan bahwa Ibuku ada dalam diriku (hatiku) dan segenap aliran darahku. Apakah berarti badan Ibu kita ada dalam badan kita?

Itulah yang juga dimaksud dengan Manunggaling Kawulo Ghusti. Adalah sebuah rasa yang mendalam, dan komitmen untuk berprilaku dengan segenap hati yang bersih.

Bukan seperti yang diartikan; mempersatukan Tuhan dengan diri kita.
Lagi-lagi ini adalah sebuah pemelintiran dari agama impor.

Mari Menggunakan Bahasa Kita Sendiri

Yang perlu diingat, bahwa Tuhan Yang Maha Esa dapat mengerti bahasa apapun, bahkan bahasa yang baru kita sebut dalam hati sekalipun, Tuhan Yang Maha Esa dapat mengerti.

Sembahyang dengan Bahasa, selain Bahasa Ibu, menurut saya, kita tidak dapat menghayatinya dengan tulus dan iklas. Bagaimana tidak, sebab seperti kebanyakan penyanyi-penyanyi di Indonesia yang menyanyikan lagu berbahasa asing. Alunannya benar, tetapi karena tidak ada penghayatannya, terdengar hambar.

Oleh karenanya, menurut saya, Agama yang cocok untuk setiap orang di dunia ini, adalah Agama Lokal mereka masing-masing. Hal ini lebih dikarenakan, dengan kita menganut Agama Lokal, berarti kita pun menggunakan Bahasa Lokal.

Beberapa negara yang benar-benar maju, tidak hanya di bidang sains, tetapi kemajuan budayanya pun begitu pesat, seperti; Israel, Jepang, dan China (Bahkan Nabi-nya orang Islam saja menasehati "Belajarlah sampai ke Negeri China")
Mereka semua menggunakan Agama Lokal.

Bahasa Asing - Bahasa Indonesia
Abi : Bapak, Ayah Umi : Ibu, Bunda
Allah : Tuhan (Ghusti)
Amin : Terimakasih, Matursembahnuwun Ghusti. (Amin=Kabulkanlah - tidak sepantasnya manusia memerintahkan Sang Pencipta)
Assalam mu alaikum : Salam, Sepada, Permisi
Bro (Brother) : Sob (Sobat)
Copy Paste - CoPas : SaTe (Salin Tempel)
Dijabah : Dikabulkan
Download : Unduh Upload : Unggah
Ichtiar : Berusaha
Insya Allah : Mudah-mudahan (bermakna; semoga dimudahkan dalam melakukan....)
Mubazir : Muspro
Tausiyah : Wejangan

Di atas hanya contoh saja, selebihnya mungkin Anda lebih peka. Silahkan mencintai Bahasa Indonesia seutuhnya, dengan berjuang untuk tidak terpengaruh dari bahasa2 Asing yang mendominasi Bahasa pergaulan bahkan bahasa resmi di Indonesia.

Rabu, 05 Mei 2010

Cuci Otak dan Kejawen

Cuci otak merupakan tindakan Subyek mempengaruhi Obyek dengan cara, membawa logika berfikir Obyek ke pola pikir yang diingini oleh Subyek.

Prosesnya adalah: Subyek dan Obyek pertama-tama memiliki satu pijakan narasumber yang sama. Nara sumber dapat berupa kitab suci, atau buku-buku yang diterjemahkan dengan merujuk pada kitab suci tersebut, dengan beberapa ayat-ayat yang meyakinkan. Bagi orang-orang yang berambisi untuk masuk Surga, yang notabene belum ada bukti, bahwa orang yang meninggal dengan menyakiti dirinya sendiri, maupun orang lain, bisa masuk Surga.

Bagi seorang Kejawen, dimana Perasaan Surgawi dan Kejamnya Neraka yang hakiki ada dalam hatinya sendiri.
Mengapa Perasaan Surgawi ada dalam hati kita sendiri? Surga adalah sebuah perasaan yang membahagiakan, yang mana dirinya sudah berhasil menikmati hidupnya yang bermanfaat, yangmana sekaligus prilakunya dapat bermanfaat juga bagi Pihak Lain (Orang Lain, Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, dlsb).

Mengapa Kejamnya Neraka ada dalam hati kita sendiri? Neraka adalah sebuah perasaan bersalah, karena merugikan Pihak Lain (Orang Lain, Alam, Mahluk Halus, Sesepuh, dlsb). Perasaan Benar dan Bersalah, bagi seorang Kejawen, didapat dari hasil Olah Roso. Sehingga ketika perasaan Kejamnya Neraka muncul dalam dirinya, maka seorang Kejawen, tidak henti-hentinya untuk meminta ampun pada Ghusti, untuk memohon tuntunanNya.

Kalau perasaan Surgawi tersebut sudah ada dalam diri seseorang, maka seorang yang Berbudi Luhur, tidak akan lagi terpengaruh untuk berambisi masuk Surga.
Tetapi bagi seorang Kejawen yang masih terlalu merasa bersalah, dengan Olah Roso (tidak memerlukan Nara Sumber apapun selain dirinya) dirinya akan dapat menemukan jalan keluarnya sendiri.

Dengan penjelasan tersebut di atas, jadi boleh dibilang, Seorang Kejawen Sejati, tidak mungkin untuk dicuci otaknya dalam konteks "Hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa." Hal ini dikarenakan, Seorang Kejawen Sejati, sudah memiliki hubungan yang unik dengan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga orang lain tidak dapat mencampurinya atau mempengaruhinya, pola hubungan tersebut kepada Janji-janji untuk masuk Surga.

Mengapa Kejawen difitnah

Agama-agama pendatang mempunyai kepentingan untuk merusak tatanan pemikiran kepercayaan penduduk asli. Hal ini dikarenakan, para pendatang yang membawa misi keagamaan itu, awalnya adalah merupakan perjalanan bisnis.

Demi kepentingan bisnisnya, melihat Kejawen yang memiliki “Kearifan Lokal”, para pebisnis agama tadi merasa gusar untuk bertindak sebagai kapitalis.

Apapun alasannya, sebuah bangsa yang menyebrangi lautan dengan misi bisnis, mereka adalah kelompok kapitalis, apapun dalihnya, karena dagang merupakan pengelolaan kapital demi keuntungan. Pengelolaan “Kapital” demi “Keuntungan”, inilah yang disebut “Kapitalis”.

Sehingga tidak mengherankan, agama-agama pendatang, juga memiliki pola pikir untuk mengambil keuntungan.

Jadi dalam rangka menculasi penduduk asli yang Berbudi Luhur (yang tidak punya buruk sangka), sebagai obyek mereka untuk dieksploitasi secara ekonomi.